Rabu, 23 Juni 2021

Sejarah Alternatif : Apa yang terjadi seandainya Kesultanan Bulungan tidak menjadi bagian dari Vazal atau Negara bawahan Kerajaan Belanda?


Hal ini dapat dikategorikan sebagai sejarah alternatif atau alternative History, tema ini menjadi menarik bila kita mencoba sedikit merekonstruksi sejarah Kesultanan Bulungan dari sudut pandang berbeda. Tentu saja fakta sejarah itu objektif namun rekonstruksi sejarah cendrung subjektif.

Peringatan!, tulisan receh ini tidak diyakini didunia nyata. Ini hanya sekedar merekonstruksi saja sejarah alternatif Bulungan.

Bulungan di Abad ke 18, 19 dan 20 M

Pertarungan antara Inggris dan Belanda untuk menguasai wilayah Nusantara sudah banyak diketahui sejak dibangku sekolah. Sebab mengapa Belanda menaruh perhatian terhadap Kesultanan Bulungan pun juga karena hal tersebut. Persaingan akut yang dimulai antara armada dagang baik dari pihak VOC maupun EIC berdampak pada arus perdagangan di wilayah Nusantara kala itu, dikemudian hari  persaingan tersebut bahkan naik tingkat pada tahap peperangan antara Inggris dan Belanda di Jawa

Kesultanan yang muncul diparuh pertama Abad ke-18 itupun tak jauh nasibnya dengan banyak kerajaan maupun kesultanan lainnya kala itu, yaitu menjadi sasaran bagi pihak Inggris dan Belanda. Lalu bagaimana seandainya Kesultanan Bulungan tidak menjadi bagian dari vazal Belanda melainkan menjadi bagian dari wilayah dibawah perlindungan Inggris? Gambaran apa yang mungkin muncul dimasa tersebut seandainya hal tersebut memang benar-benar terjadi?

Pertama, Kesultanan Bulungan akan menjadi wilayah penyangga yang disiapkan oleh pihak Inggris, sehingga ia akan menjadi wilayah penting yang akan sangat diperhatikan mengingat kawasannya yang strategis dan hasil alamnya yang melimpah. Inggris akan membangun fasilitas militer yang besar di Tarakan seperti yang mereka lakukan di Labuan. Hal ini dimaksud untuk mengatasi patroli kapal-kapal perang Belanda yang kerap muncul dari wilayah bekas Kerajaan Berau yang terpecah menjadi dua kesultanan tersebut serta menjadikannya markas armada Royal Navy untuk mengatasi kaum Lanun dari wilayah Kesultanan Sulu. 

Selain Tarakan yang dibangun sebagai pusat pertahanan Royal Navy, kawasan Tanah Kuning juga akan dibangun pos pertahanan terdepan mengingat secara geografis wilayah itu berdekatan dengan Kesultanan –kesultanan yang telah menjadi Vazal Kerajaan Belanda. Tanjung Selor akan menjadi pusat perdagangan milik Kesultanan Bulungan dimana perdangan antara Singapura akan sangat sering terjadi. 

Dua, Wilayah Kesultanan Bulungan akan menjadi bertambah luas, karena Inggris memasukan sebagian wilayah Sabah secara administrasi dibawah control Kesultanan Bulungan, maka hal ini akan menjadikan Kesultanan Bulungan sebagai penantang baru bagi Kesultanan Brunei yang wilayahnya juga makin menyusut setelah penguasa Serawak, Keluarga Rajah Muda Brooke memulai ekspansi perluasan wilayah sejak kawasan tersebut dikuasai pada tahun 1850.

Tiga, Tidak akan pernah ada perjanjian Korteveklaring de Tweede pada 27 September 1834, dimana salah satu poin dari isi perjanjian itu adalah penguasaan Belanda terhadap wilayah perairan dan muara Sungai di Bulungan, sebab Kesultanan Bulungan bukan Vazal Belanda.

Empat, Kawasan Kota-kota baru akan muncul disepanjang wilayah Kesultanan Bulungan, akibat kebijakan perdagangan dan ekploitasi hasil bumi oleh pemerintah Kolonial Inggris, dan hal ini akan diikuti pula dengan pembangunan sarana dan prasarana khususnya dibidang pendidikan, kesehatan dan pertahanan. Tarakan, dan kota kembar Tanjung Selor dan Tanjung Palas akan menjadi kawasan modern. Kota-kota lainnya seperti Tawau, Nunukan dan kota-kota lainnya dikawasan Sabah akan membentuk jalur perdagangan antar kawasan, sekaligus pusat pertahanan strategis milik Inggris setelah Singapura. Malinau, Tideng Pala dan kawasan lainnya akan tumbuh menjadi pusat pemerintahan baru dikawasan pedalaman dan pesisir.

Lima, Jika hal ini berlaku maka mungkin sekali pernikahan antara Sultan Sulaiman dengan Teuku Lailan Syafinah dari Langkat tidak akan terjadi, sebab keduanya berbeda posisi, tentu saja jikapun itu direncanakan, akan ada konsekuansi politik dan tekanan pihak Inggris terhadap Kesultanan Bulungan yang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Inggris. Pernikahan antar kerabat dan keluarga Kesultanan Bulungan justru akan terjadi dengan negeri-negeri Melayu disemananjung maupun Sabah dan Serawak mengingat adanya kesamaan ikatan budaya dan naungan bersama didalam wilayah kekuasaan Kolonial Inggris.

Enam, Kesultanan Bulungan tidak akan pernah menghadiri ulang tahun mahkota Ratu Wihelmina, dan hadiah berupa sebuah patung logam berbentuk Singa tidak akan pernah tercipta. 

Tujuh, Kesultanan Bulungan mungkin, pada akhirnya mengikuti jejak Kesultanan Brunei untuk tidak bergabung dengan Federasi Malaya, mengingat keinginan untuk menjadi wilayah mandiri lepas dari pengaruh Kolonial Inggris dan Kerajaan Malaysia. Wilayah Kesultanan Bulungan menjadi berkurang setelah muncul ketegangan dengan pihak Pederasi Malaya di Kalimantan, sama seperti Brunei yang bersengketa dengan Malaysia dikawasan Limbang.

Orang-orang Semenanjung Malaya mengirim banyak tentara di sepanjang wilayah teritorial Kesultanan Bulungan. Paska keluarnya Singapura, ketengangan sempat terjadi diwilayah perbatasan Sabah dan Bulungan. Dimasa tersebut struktruk Angkatan Bersenjata baru dibentuk dengan kompoisisi banyak diisi oleh masyarakat Pribumi, yang bisa jadi dikenal dengan nama Royal Bulungan Army. 

Pembentukan dewan pemerintah juga dibentuk mengakomodir keberadaaan masyarakat baik pribumi mapun pendatang diwilayah Kesultanan Bulungan. Pembicaraan mengenai tapal batas baik yang berbatasan dengan Sabah diutara maupun dengan pihak Repubik Indonesia diselatan menemui titik terang setelah sederet pertemuan dan perjanjian diplomasi panjang dilaksanakan. 

Delapan, Negara kecil bernama Kesultanan Bulungan menjadikan Sistem Beraja dalam pemerintahannya. Menjadi bagian dari ASEAN mengikuti jejak Brunei. 

Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia akan sangat erat, seperti halnya Brunei, Indonesia menjadi patner militer yang paling dipercaya dikawasan. Royal Bulungan Army menjadi anak didik Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam hal pelatihan pasukan khusus setelah Brunei dan Kamboja. Hal tersebut terjadi karena Bulungan tidak menggabungkan diri dengan aliansi militer yang dibentuk bernama FPDA atau Five Power Defence Arrangements yang terdiri dari Malaysia, Singapura, Inggris, Australia dan Selandia Baru. Sama halnya dengan Brunei kemungkinan satuan pasukan Gurkha juga akan ditempatkan diwilayah Bulungan.

Sembilan, Tanjung Palas akan menjadi kota administrasi tersendiri yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan.

Sepuluh. Bahasa Inggris akan menjadi bahasa yang dituturkan dengan baik diwilayah Kesultanan Bulungan, serta menjadikan bahasa melayu dialek kalimantan selain bahasa lokal yang digunakan dalam penuturan masyarakat sehari-hari.

Demikian "Pengandaian" yang mungkin saja terjadi jika seandainya Kesultanan Bulungan tidak pernah menjadi Vazal atau wilayah jajahan Belanda, melainkan dibawah pemerintahan Kolonial Inggris.

Penulis: Zee.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Repost: Sedikit ulasan tentang "Nama Orang Jang Bergelar" koleksi Museum Kesultanan Bulungan.

Apabila kita menggali sejarah Bulungan, banyak hal baru yang mungkin saja membuatmu berfikir agak aneh pada awalnya, sayapun demikian, diant...